Agri-PV Didorong Perkuat Ketahanan Pangan, Energi, dan Air di Indonesia
BOGOR – Pengembangan sistem agri-photovoltaics atau agri-PV dinilai semakin relevan untuk menjawab kebutuhan ketahanan pangan, energi, dan air di tengah perubahan iklim. Sistem tersebut memadukan kegiatan pertanian dengan pembangkit listrik tenaga surya dalam satu kawasan lahan.
Potensi agri-PV tersebut mengemuka dalam Global South Agri-Photovoltaics Forum (GSAF) 2026 yang digelar di Kampus IPB Dramaga, Kamis (6/8/2026). Forum ini mempertemukan berbagai pihak untuk membahas peluang pengembangan teknologi energi bersih yang tetap menjaga produktivitas sektor pertanian.
Wakil Rektor IPB University Bidang Konektivitas Global, Kerja Sama, dan Alumni, Prof Iskandar Z Siregar, mengatakan kebutuhan lahan bagi pertanian dan energi terus meningkat. Karena itu, pemanfaatan satu bidang lahan secara terintegrasi menjadi alternatif yang perlu dikembangkan secara serius.
IPB University, kata dia, telah menjalankan sejumlah proyek agri-PV melalui kerja sama internasional. Selain itu, perguruan tinggi tersebut tengah menyiapkan kawasan Food-Energy-Water atau FEW Nexus sebagai pusat riset dan inovasi.
“Forum ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi global dalam pengembangan agri-PV,” ujar Prof Iskandar.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Prof Irfan Syauqi Beik, menilai agri-PV berpeluang memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat pedesaan. Selain menjaga fungsi pertanian, sistem ini dapat menyediakan akses energi bersih serta membuka peluang tambahan pendapatan bagi petani.
Perubahan iklim yang meningkatkan risiko kekeringan menjadi salah satu tantangan besar bagi pertanian Indonesia. Dalam konteks itu, panel surya dapat membantu menciptakan kondisi mikro yang lebih sejuk dan mengurangi kebutuhan air pada tanaman.
Prof Sujith Ravi dari Temple University menyebut sejumlah riset di berbagai negara memperlihatkan komoditas tertentu, termasuk kopi dan kapulaga, dapat tumbuh lebih baik di bawah panel surya. Meski demikian, penerapannya harus disesuaikan dengan iklim, jenis tanaman, dan kebutuhan masyarakat lokal.
Kerja sama Pemerintah Korea, IPB University, Bappenas, dan Indonesian AID kini mencakup penyusunan master plan, peningkatan kapasitas, serta pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendukung produksi pertanian dan energi.
Direktur Transmisi, Ketenagalistrikan, Kedirgantaraan, dan Antariksa Bappenas Yusuf Suryanto menegaskan pengembangan agri-PV harus memastikan lahan tetap berfungsi sebagai kawasan produksi pangan. Langkah ini diharapkan mempercepat transisi energi bersih tanpa mengorbankan ketahanan pangan nasional.
