Panggilan Telegram Berujung Ancaman Penyebaran Gambar, Kenali Modus Pemerasan Seksual
KOTA BEKASI – Seorang pengguna Telegram diduga menjadi sasaran pemerasan setelah menjawab panggilan dari akun tidak dikenal. Pelaku disebut menghubungi berkali-kali sebelum mengancam menyebarkan gambar untuk menekan korban.
Berdasarkan keterangan seorang rekan korban, panggilan tersebut merupakan panggilan biasa, bukan panggilan video. Saat akhirnya dijawab, korban mendapati gambar penelepon tanpa busana. Pelaku kemudian disebut mengambil tangkapan layar dan menelusuri profil korban untuk melancarkan ancaman.
Pemerasan dengan ancaman penyebaran materi bermuatan seksual dikenal sebagai sextortion. Lembaga keselamatan daring Australia, eSafety Commissioner, menjelaskan bahwa pelaku dapat mengancam mengirim gambar atau rekaman kepada keluarga, teman, hingga rekan kerja korban.
Telegram sebelumnya juga digunakan dalam perkara pemerasan seksual yang ditangani Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya. Dalam konferensi pers pada 6 Mei 2025, polisi menjelaskan bahwa korban mula-mula didekati melalui aplikasi Bigo sebelum komunikasi dipindahkan ke Telegram.
Pelaku membujuk korban melakukan panggilan video seksual yang kemudian direkam tanpa sepengetahuannya. Rekaman itu digunakan untuk meminta uang dengan ancaman penyebaran.
Salah seorang korban telah membayar Rp3,3 juta. Meski demikian, pelaku tetap melancarkan ancaman dan meminta pembayaran tambahan. Uang yang diserahkan tidak menghentikan pemerasan terhadap korban.
Perkara tersebut memiliki pola berbeda dari keterangan mengenai pengguna yang menerima panggilan biasa. Cara memperoleh materi pemerasan pada kedua kejadian tidak dapat disamakan.
Selain rekaman, pelaku dapat menggunakan gambar hasil rekayasa. CSIRT Kabupaten Buleleng pada 31 Juli 2026 memublikasikan aduan warga yang menerima panggilan video karena mengira penelepon merupakan kurir pengantar paket.
Setelah panggilan berakhir, pelaku mengirimkan foto tidak senonoh yang telah diedit beserta tangkapan layar wajah korban. Pelaku mengancam menyebarkan materi itu kepada pengikut media sosial, teman, dan kerabat jika korban tidak menyerahkan uang.
Keberadaan wajah seseorang dalam gambar bermuatan seksual tidak serta-merta membuktikan keterlibatan sukarela. Keaslian gambar serta konteks pengambilannya perlu diperiksa sebelum kesimpulan dibuat.
Pengguna yang menghadapi ancaman disarankan menghentikan komunikasi dan menyimpan bukti sebelum memblokir pelaku. Percakapan, identitas akun, riwayat panggilan, dan bukti transaksi dapat disertakan dalam laporan kepada kepolisian.
Korban juga disarankan tidak memenuhi tuntutan pembayaran. Kepolisian Singapura dalam imbauan pada 3 September 2026 mengingatkan bahwa pembayaran tidak menjamin materi pemerasan dihapus. Pelaku dapat terus meminta uang meskipun tuntutan sebelumnya telah dipenuhi.
