Etifresh, Inovasi Mahasiswa IPB University untuk Tekan Kehilangan Buah Pascapanen
JAKARTA – Persoalan kehilangan pangan setelah panen mendorong tim mahasiswa IPB University mengembangkan Etifresh, stiker cerdas yang dirancang untuk membantu mempertahankan kesegaran buah selama penyimpanan dan distribusi.
Inovasi yang lahir melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tersebut ditujukan bagi buah klimakterik seperti pisang, mangga, dan alpukat. Jenis buah ini masih mengalami proses pematangan setelah dipanen sehingga relatif cepat mengalami penurunan mutu apabila tidak ditangani dengan baik.
Ketua tim mahasiswa, Fasya Novelia, menjelaskan Etifresh bekerja melalui tiga fungsi utama, yakni mengendalikan gas etilen, mengatur kelembapan, dan memberikan perlindungan antijamur alami. Ketiganya dikombinasikan untuk memperlambat proses pematangan sekaligus mengurangi risiko pembusukan.
“Kami ingin menghadirkan solusi yang sederhana dan praktis, tetapi dapat menjawab beberapa persoalan pascapanen sekaligus. Etifresh cukup ditempelkan pada bagian dalam kemasan atau wadah penyimpanan tanpa kontak langsung dengan buah,” ujar Fasya melalui siaran pers, Sabtu (12/9/2026).
Dalam pengembangannya, Etifresh memanfaatkan zeolit alam dan silika dari sekam padi. Zeolit yang telah diimpregnasi dengan kalium permanganat atau KMnO₄ digunakan untuk membantu mengendalikan gas etilen, yakni hormon tumbuhan yang mempercepat pematangan buah.
Adapun silika sekam padi berfungsi membantu mengatur kelembapan di dalam kemasan. Tim juga menambahkan ekstrak daun sirih sebagai bahan antijamur alami untuk menekan pertumbuhan mikroorganisme penyebab kerusakan buah.
Etifresh turut dilengkapi indikator warna yang menunjukkan kondisi bahan aktif di dalam stiker. Ketika masih bekerja, indikator memperlihatkan warna tertentu. Warnanya akan berubah apabila kapasitas bahan aktif mulai mencapai titik jenuh.
Fasya mengatakan fitur tersebut memudahkan pengguna mengetahui waktu penggantian stiker tanpa hanya bergantung pada perkiraan lama pemakaian.
Inovasi ini diharapkan dapat menjadi alternatif teknologi pascapanen yang mudah diterapkan oleh pelaku usaha, distributor, maupun konsumen. Selain menjaga mutu buah, pemanfaatannya berpotensi mengurangi jumlah produk yang terbuang sebelum sampai ke tangan konsumen.
